Bahan Praktek

Hyung.”

“Eum...” Jelmaan rubah yang masih bergelung dalam selimut itu hanya merespon dengan gumaman, menolak untuk bangun.

Hyung.”

“Eum...”

“Ayo bangun.”

“Nanti Wonie, masih ngantuk.” Bibir pink itu merengek, dengan mata yang senantiasa terpejam, benar-benar tak ada niatan untuk membuka matanya sedikit pun.

“Ga ada nanti-nanti. Ayo bangun, mandi abis tuh sarapan. Aku udah beli, hyung tinggal makan aja. Cepetan, nanti diabisin Yonghee hyung. Abis tu kita cari perlengkapan buat praktek hyung besok.” Jungwon menarik selimut beludru berwarna baby blue itu, menampilkan tubuh mungil Sunoo yang terbalut piyama biru tua.

“Kenapa sih harus cepat-cepat? Kan bisa nanti sore.” Akhirnya, mata sipit itu terbuka menampilkan manik kecoklatan yang dinanti Jungwon sedari tadi.

“Biar cepat selesai ntar juga bisa cepet istirahat. Kalo sore pasti hyung banyak alasan. Ya panaslah, capek lah, pegel lah, ujung-ujungnya aku juga yang beli. Yang mau praktek siapa yang beli alat siapa.” omel Jungwon, membuat bibir yang melengkung itu menjadi semakin melengkung ke bawah.

“Ga usah cemberut, mandi sana atau mau aku mandiin?” Tatapan tajam itu tiba-tiba berubah menjadi lirikan jahil, jangan lupakan senyuman miringnya.

Pipi bulat dihadapannya memerah, mata rubah itu membulat. “HEE HYUNG INI WONIENYA MESUM!!” kemudian sosok itu menghilang dari balik pintu kamar mandi, membuat sosok lainnya tertawa pelan.

“YANG JUNGWON LU APAIN ADEK GW?!?!”

Mampus

•••

“Udah semua?”

Jari mungil itu mengetuk-ngetuk dagu, “Keknya udah.”

“Jangan kayaknya. Aku ga mau ya ntar malem dapet telpon 'Woniee, ini kelupaan'. Udah gak ada toko yang buka.”

Bibir pink itu mengerucut, matanya memicing tajam menatap pria yang berlesung pipi.

“Apa?”

“Wonie ngomel-ngomel mulu, ih.” Sunoo memalingkan wajahnya sambil melipat lengannya didepan dada, ngambek ceritanya.

“Lah, sekarang aku tanya. Yang bikin aku ngomel-ngomel siapa?”

”...”

“Siapa?” ulang Jungwon.

“Aku.” jawab Sunoo masih dengan posisi yang sama.

“Nah, tuh. Udah, kok jadi hyung yang ngambek? Periksa dulu itu udah semua belum? Kalo udah kita bayar, trus jajan es krim.”

Mata Sunoo seketika berbinar, sudah jelas kan alasannya? Ya, dua kata terakhir yang diucapkan Jungwon. Hahaha, mana bisa dia ngambek kalau disogok es krim seperti ini.

Dengan segera, Sunoo memeriksa barang belanjaannya. Mengecek ponselnya untuk melihat daftar alat yang dibutuhkan untuk praktek besok. Yakin bahwa belanjaannya sudah lengkap, ia menggenggam tangan yang lebih muda lalu menariknya ke kasir.

“Ini kembaliannya, makasih ya Sunoo. Semoga hasil prakteknya memuaskan!” ujar penjaga kasir yang merupakan teman dekat kakaknya Sunoo.

“Sama-sama kak, semangat kerjanya.” balas Sunoo lalu keluar dari toko, menghampiri pria yang sedang merapikan rambutnya dikaca spion.

“Idih, sok ganteng.” sinis Sunoo sambil mengenakan helm yang dibelikan sang kekasih khusus untuknya.

Jungwon menyunggingkan senyumnya, membuat pipi si manis memerah akibat senyuman miring itu. “Emang ganteng, kok. Kalo gak ganteng kan gak mungkin pipinya jadi merah-merah gitu ngeliat aku senyum.”

Ketahuan, Sunoo memutar bola matanya. “Udah ih, ayo cepet jalan! Aku mau makan es krim!”

“Ciee, salti— AKH IYA IYA AMPUN!”

“Makanya, cepet jalan!”

Jungwon menyalakan motornya setelah mengelus pinggangnya sekilas, “Astaga, sakit juga. Padahal jarinya mungil gitu gimana bisa cubitannya sakit gini??”

“Aku dengar ya Wonie~”

“Iya ampun, hyung.”

•••

“JONGUUU!”

“Eh, Noo hyung? Kesini sama siapa?” Jeongwoo, orang yang duduk di kursi dekat kasir itu tersenyum saat melihat seorang pria mungil dengan pipi gembil memasuki toko es krim milik ibunya.

Sunoo berjalan mendekati Jeongwoo dengan senyuman manis, “Sama Jungwon, hehe. Mint choco nya masih ada?”

“Yah, maaf hyung. Mint choco nya habis dari kemaren, besok lusa baru ada lagi.” jawab Jeongwoo dengan pandangan sendu.

Sesuai dugaan, binar cerah itu seketika meredup. Bibir cherry itu maju beberapa senti dengan pipi yang menggembung.

“Habis?” Oh tidak, mata indah itu mulai berkaca-kaca.

“Iya hyung, maaf.”

“Halo, Jeongwoo.”

Jeongwoo yang sedang menatap Sunoo dengan rasa bersalah itu mengalihkan pandangannya, “Oh, hai Jungwon.”

“Kenapa?” tanya Jungwon saat melihat kekasihnya hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

“Habis...” cicit Sunoo pelan.

“Hah? Apa yang habis?”

“Es krim rasa mint choco lagi habis, maaf hyung.” Itu Jeongwoo yang menjawab.

Jungwon mengangguk pelan, akhirnya paham penyebab perubahan mood pacar manisnya.

“Mau pergi ke toko lain?” tanya Jungwon, tangannya mengelus surai hitam legam itu.

Menggeleng, Sunoo menjawab. “Mau disini...”

“Yaudah kalo gitu mau rasa apa?”

Mint choco...”

“Tapi mint choconya habis, hyung.”

“Tapi Sunoo mau mint choco, Wonie~” Kepalanya terangkat, menatap yang lebih muda dengan mata berkaca-kaca, ada bekas air mata yang mengalir di pipi putih itu.

“Ya ampun, Noo hyung nangis? Maafin aku, kemaren ada seorang ayah yang beli semua stok mint choco buat ulang tahun anaknya. Aku kasih satu cup es krim alpukat gratis, mau?” Tawar Jeongwoo, ia merasa bersalah saat melihat tangisan pacar sahabatnya itu. Walaupun ia tahu ini bukan kesalahannya, tapi tetap saja melihat pria itu menangis cukup melukai hatinya.

“Beneran?” Menatap Jeongwoo, ada sedikit binar cerah dimata yang mulai memerah itu.

“Iya, beneran.” jawab Jeongwoo sambil mengangkat jarinya membentuk peace.

“Eum...” Telunjuk itu mengetuk-ngetuk dagu, membuat Jeongwoo memekik dalam hati.

“Hm?”

“Wonie~” Sunoo menoleh kearah Jungwon, tangannya mengarahkan Jungwon untuk mendekat.

“Iya hyung?” Jungwon mendekatkan kepalanya, mengusap bekas air mata yang hampir mengering.

“Mau es krim alpukat...”

“Pfft- HAHAHAHAHA!”

Walaupun suaranya kecil tapi ia tak menyangka kalau dua orang yang bersahabat ini mendengar ucapannya. Dan lagi, apanya yang lucu?

“Kok ketawa sih??” Sunoo kesal. Matanya memicing, bibirnya mengerucut dengan tangan yang dilipat di dada.

“Ya habisnya, tinggal bilang mau sama Jeongwoo aja pake bisik-bisik segala. Astaga, hyung.” Jungwon mengusap air mata yang disudut matanya, sedangkan Jeongwoo masih tertawa sambil memukul-mukul meja kasir.

“Ish, udahlah. Pokoknya aku mau es krim alpukat!” ujarnya sebelum melangkahkan kakinya ke meja yang selalu ditempatinya saat berkunjung kesini.

“Aduh, astaga. Ada-ada aja pacarmu itu, Won. Prasaan tadi mewek, kok tiba-tiba jadi ngamuk gitu?” tanya Jeongwoo sambil mengambil satu cup es krim berukuran sedang.

“Yang besar, Woo,” ujar Jungwon yang dibalas anggukan oleh Jeongwoo, mengganti cup sedang dengan ukurang yang lebih besar. Jangan komen 'udah dikasih, minta yang besar pula.' karena biar Jeongwoo bilangnya gratis, tetap saja Jungwon akan membayarnya. “Biasa, bayi. Tadi pagi gw paksa bangun, makanya agak rewel.”

“Lah pantes, perubahan moodnya cepet banget.”

•••

“Sudah kan? Ayo pulang.”

Sunoo menaruh cup es krim keduanya yang telah kosong diatas meja. Menatap Jungwon dengan senyuman manis, “Hehe...”

“Apa hehe-hehe? Udah jangan banyak-banyak nanti sakit.” ujar Jungwon, matanya menajam melihat mata yang menyipit karena senyum lebar itu.

“Lagi...”

'Gak, udah banyak. Inget Jungwon, dia udah habis dua cup gak boleh nambah lagi.' batin Jungwon, menahan diri agar tidak terhanyut dengan senyum kelebihan gula itu.

“Enggak, hyung udah habis dua cup loh. Kalo kebanyakan nanti hyung sakit, kan besok ada praktek.”

“Heung...”

“Ya, sekarang kita pulang ya?”

“Heung...”

Haduh Sunoo, bagaimana Jungwon akan paham kalau kamu hanya bergumam seperti itu? Seseorang tolong beri Jungwon kesabaran lebih untuk menghadapi bola bulu dihadapannya ini.

“Atau aku bilang Hee hyung kalo hyung ga mau pulang maunya makan es krim aja?”

“EH? JANGAN WONIE!!” Huft, ternyata memang harus diancam dulu.

“Kalo gitu, kita pulang ya? Udah mendung ini, aku kan bawa motor, nanti kehujanan.” ujar Jungwon sambil menatap keluar toko.

“Heum...” Anggukan kecil dan gumaman dari bibir yang mengerucut didapat Jungwon. Memang sebenarnya ini gara-gara Jungwon karena membangunkan Sunoo lebih pagi dari hari libur biasanya. Dan ya layaknya bayi, ia menjadi lebih rewel dari biasanya.

Mint choconya kan datang lusa, jadi lusa kita kesini lagi. Nanti aku beliin es krim mint choco yang banyak.” Akhirnya, Sunoo membereskan barang-barangnya lalu menarik tangan Jungwon ke parkiran.

•••

“Wonie, hujannya kita terobos aja yuk!”

Ya, sekarang mereka berada di halte yang terletak didepan komplek perumahan yang berbeda dua komplek dari rumah Sunoo. Memang jaraknya tidak terlalu jauh, dan hujannya tidak terlalu deras. Tapi biarpun dipaksa kebut-kebutan tampaknya tetap bisa membuat basah kuyup dan demam hingga besok. Ingat, Sunoo ada jadwal praktek besok. Dan sayangnya Pak Wooseok tidak mudah diajak bertoleransi. Berbanding terbalik dengan suaminya, Pak Jinhyuk yang biarpun sudah lewat tenggang waktu nilainya tetap ada walaupun pas-pasan.

“Enggak, hyung. Udah kita duduk aja disini, aku udah hubungin Hee hyung. Jin hyung bakal nyampe bentar lagi.” Jungwon memasangkan kupluk jaket kulit miliknya pada Sunoo. Dia selalu membawa jaket itu setiap kali ia pergi bersama Sunoo menggunakan motor, berjaga-jaga untuk hal seperti ini.

“Eh, Jin hyung?” tanya Sunoo sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.

“Iya, ada Jin hyung dirumah.” Jungwon yang melihat itu segera menggenggam salah satu tangan Sunoo lalu memasukkannya ke saku jaket yang dikenakannya. “Masih dingin?”

“Tangan kiri aku masih dingin.” jawab Sunoo dengan pipi yang memerah.

“Yaudah kalo gitu hadap sini.” Jungwon membawa telapak tangan Sunoo yang lainnya dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. Mengelus tangan lembut itu dari dalam.

Keduanya terlalu asik hingga tak menyadari sebuah mobil sedan hitam yang berhenti didepan halte.

“HEH! BAGUS YA MALAH UWU-UWU DIA DISINI. CEPAT NAEK!!”

“Sialan, BAE JINYOUNG! JANGAN NGEGAS BISA GAK!” balas Jungwon yang terlampau kesal karena acara gandengannya diganggu.

“HEH DASAR BOCAH GAADA SOPAN-SOPANNYA YA SAMA YANG TUA!!”

“Jadi pulang gak sih... Aku ada praktek besok...”

Ya, akhirnya mereka pulang ke rumah Sunoo menggunakan mobil Jinyoung. Motor Jungwon? Ia sudah menghubungi orang rumah untuk menjemput kuda besi itu.

. pluvioseleno