Senyum
Bunda membuka pintu depan dan terlihatlah Jungwon yang sudah menggunakan pakaian santai dengan sebungkus anggur hijau ditangannya.
“Dibilangin jangan bawa macem-macem...” bunda menatap Jungwon yang hanya terkekeh tanpa dosa.
“Tadi iseng aja beli di bandara. Nih, dimakan ya bun.” Jungwon menyerahkan kantong plastik itu dan diterima dengan senyum tipis oleh bunda.
“Pacarku mana bun?” Jungwon mengintip ke ruang tengah dimana hanya ada televisi yang menampilkan drama Korea kesukaan bunda.
“Di kamarnya, baru aja masuk.” jawab bunda sembari memasukkan anggur tadi ke dalam kulkas.
“Jungwon nyusul Sunoo ya, bun.”
“Eh, ga mau minum dulu?”
“Nanti Jungwon ambil sendiri.”
Menghela napas, bunda hanya mengangguk. “Yaudah, jangan diapa-apain anak bunda.”
“Siap bunda, selamat malam.”
“Malam.”
•••
“Hup!”
“Wonie beraaat!”
Jungwon memeluk Sunoo yang telungkup dibalut selimut ungu tebalnya. Menindih tubuh mungil yang bergerak tak beraturan itu.
“BERAT!”
“ADUH! Iya ampun nyaring bener suaranya.” Akhirnya Jungwon melepaskan pelukannya dan duduk dipinggir kasur, menatap Sunoo yang juga menatapnya dengan pandangan sinis.
Selama beberapa detik mereka bertatapan dalam posisi seperti itu, akhirnya Sunoo bangkit dan duduk didekat Jungwon.
Kedua lengannya bergerak memeluk lengan kiri Jungwon, menduselkan kepalanya di pundak lebar itu.
“Hiks.”
“Eh, pacarku nangis.” Jungwon menoleh dan mengelus surai pirang sang kekasih.
“Sakit, Wonie...”
“Udah, jangan diinget lagi. Dia cuma orang iri. Aku juga minta maaf karena ngebiarin hp aku dalam keadaan nyala gitu aja. Maaf ya.”
“Wonie nda salah.”
“Tapi kalo bukan karena aku, dia ga bakal bisa hubungin kamu.”
Bugh
“Wonie nda salah!”
“Aduh... iya deh aku ga salah.”
Sunoo yang masih menenggelamkan wajahnya di pundak Jungwon, dan Jungwon yang setia mengelus kepala Sunoo, sesekali menepuk punggung kecil itu.
“Oh iya, aku mau nagih senyum. Mana senyumnya, sini aku mau liat.” Jungwon melepaskan pelukan Sunoo dari lengannya, lalu menangkup wajah mungil sang kekasih yang memerah karena menangis.
“Nda mau, aku jelek.” Sunoo mengalihkan pandangannya saat Jungwon menatap tepat di kedua matanya.
“Emang.”
“Ish!”
“Hahahahaha.”
“Jangan ketawa!”
“Iya, iya. Ini udah ga ketawa.” Jungwon mengusap air matanya sekilas, lalu kembali menangkup wajah Sunoo.
“Ayo senyum.”
Sunoo mengangkat kedua sudut bibirnya, seperti tak ikhlas.
“Yang bener dong, iii gitu.”
“Iii.”
“Giginya bersih, udah sikat gigi ya?”
Sunoo mengernyit mendengar pertanyaan out of nowhere yang ditodongkan Jungwon.
“Ya iyalah, kan ini udah malam, udah jam tidur.”
“Hmm gitu.”
Krauk!
“PIPI AKU!”
“SUNOO JANGAN TERIAK-TERIAK INI UDAH MALAM!”
“BUNDA JUGA TERIAK!”
. pluvioseleno