Cuz I Love You
tw // kiss, abusive parent, mention of death
“Wonie~”
”...”
“Wonie~”
“Hm.”
“Uwonie~”
“Sebentar, Noo.”
Sunoo menatap tumpukan kertas didepan Jungwon dengan kesal. Dia sudah mengatur jadwal untuk jalan-jalan tapi kertas-kertas sialan itu datang dengan seenaknya dan mengalihkan perhatian pria berlesung pipi itu dari dirinya.
“Sebentar terus, udah sejam loh. Capek nih nunggunya~” Sunoo menghentakkan kaki diatas kasur milik pacarnya.
“Sabar ya, dikit lagi selesai kok. Kakinya jangan hentak-hentak gitu, ntar diperban lagi loh.” ujar Jungwon tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas itu.
“Ish yaudah deh, aku jalan sama Heeseung hyung aja. Mumpung dia nawarin.” Sunoo berhenti menghentakkan kakinya lalu mengambil ponsel untuk menerima ajakan Heeseung.
Sret!
“Udah selesai, ayo jalan.” Dengan ekspresi tak bersalah, Jungwon mengambil ponsel Sunoo dan berjalan duluan meninggalkan Sunoo yang kesal.
•••
“Wonie, kita mau kemana?” tanya Sunoo yang sedang mengunyah kukis coklat yang memang disediakan Jungwon di dalam mobil.
“Coba tebak.” ujar Jungwon sambil melirik Sunoo disampingnya.
“Eum... taman bermain?” tebak si manis dengan mata berbinar.
Ok, taman bermain.
“Yap, seratus buat hyung gembulku yang lucu ini!” seru Jungwon sambil mencubit pelan hidung Sunoo yang agak merah.
“Eh, Wonie beneran mau bawa aku ke taman bermain?” tanya Sunoo karena Jungwon tak pernah membawanya ke taman bermain kecuali dia yang memaksa.
“Hm, aku bawa kamu duluan sebelum kamu maksa-maksa aku.” Bibir itu terkekeh, menampilkan bolongan kecil dipipinya.
“Wuaaah, sayang banget sama Wonie!!”
•••
“Yeah, taman bermain!” pekik Sunoo saat mereka sudah tiba didepan gerbang masuk.
“Ayo!” Sunoo menarik lengan Jungwon tapi belum sempat karena yang lebih muda lebih dulu mengeratkan telapak tangan mereka.
“Supaya gak ilang.” ucap Jungwon yang membimbing jalan mereka.
“Ish, aku nda pernah ilang ya!” sungut Sunoo kesal, bibirnya mengerucut dan matanya memicing tajam.
Bukannya takut, Jungwon malah terkekeh. “Ah masa? Yang dua bulan lalu katanya mau beli es krim tapi malah nyasar ke ferris wheel siapa ya? Ditemuin sama Jake hyung lagi nangis sambil makan es krim, mana es krimnya belepotan lagi!”
“Wonie ihh!!” Terlampau kesal, Sunoo memukul pundak Jungwon dengan keras.
Bukannya marah atau kesakitan, Jungwon malah tertawa. “Iya-iya maaf, deh. Tangannya gapapa kan? Kamu tadi mukulnya kuat banget loh.” ujarnya sambil mengelus punggung tangan Sunoo yang memerah. Memang tadi pukulannya tidak main-main, dan pundak Jungwon isinya bukan lemak, jadi wajar saja jika tangan itu memerah.
“Gapapa kok, aku kan kuat!” balas Sunoo sambil tersenyum cerah, melupakan rasa kesalnya pada yang lebih muda.
Mengecup punggung tangan yang lebih mungil, Jungwon berujar, “Kalo gitu, ayo sekarang kita main.”
•••
“Wonie!!”
Seseorang yang sedang menatap layar laptop itu tersentak dari duduknya. Ia berbalik dan menemukan pria manis yang berlari kearahnya dengan rambut yang berantakan dan pipi yang berdarah.
“Sunoo?!” Segera saja ia memeluk pria manis itu dan mengelus surai hitam didekapannya.
Lima menit berlalu dan Sunoo masih menangis, Jungwon bisa merasakan kaosnya basah karena butiran kristal itu. Ia mengelus punggung sempit itu dengan pelan sambil mengucapkan beberapa kalimat penenang.
“Udah?” bisiknya saat Sunoo sudah mulai tenang.
Sunoo mengangguk, sambil terisak ia berlirih “Sakit, Wonie.”
“Iya, kalo gitu nangisnya dipending bentar ya. Kita obatin lukanya dulu.”
Sunoo mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah selagi Jungwon mengambil kotak obat di dapur. Jemari lentiknya bergerak diatas remot dan mengganti chanel televisi menjadi serial kartun.
Jungwon mengobati pipi Sunoo dengan telaten sedangkan yang diobati sibuk dengan serial kartun yang diputarnya, sambil sesekali meringis pelan saat Jungwon tak sengaja menekan lukanya terlalu kuat.
“Dah, mau pake plester warna apa?” Sunoo menatap belasan plester warna-warni didalam kotak obat, lalu mengambil satu yang berwarna merah muda dengan gambar pelangi.
“Hm? Tumben gak pake yang bebek?” tanya Jungwon heran, karena biasanya jika ada luka diwajahnya Sunoo memilih plester yang berwarna kuning dengan gambar bebek.
“Lagi gak mau ketemu bebek, pas pulang tadi aku nemuin jam bebek aku udah rusak.” jawab Sunoo dengan mata yang kembali fokus pada televisi.
“Kenapa gak dibawa kesini? Biar aku baikin.” Jungwon mengecup plester yang menutup luka di pipi gembil itu, lalu mengusapnya dan menarik tubuh yang lebih mungil kepelukannya.
“Oh iya, bukan rusak tapi hancur. Kacanya pecah, jarumnya lepasan, trus batrenya penyok.”
Jungwon tersentak. Astaga, apa lagi yang dilakukan pak tua itu? Dan apa tadi, baterainya penyok?
“Wonie~” Sunoo menduselkan wajahnya di dada bidang yang lebih muda, membuat sang empu terkekeh geli.
“Wonie, tadi rambut aku dijambak. Nyeri banget...”
Jungwon mengusak surai hitam itu, “Hush, nyeri pergi jauh sana, jangan deketin Sunoo nya Wonie. Dah ya, rambutnya masih banyak kok, gak botak.”
Dugh!
Pukulan kecil didapat Jungwon dipundaknya, membuat sang korban pemukulan itu tertawa.
“Udah diem ih, jangan ketawa.” omel Sunoo sambil mencubit pinggang Jungwon.
“Haha, eh iya iya udah gak ketawa nih.”
Iya gak ketawa cuman senyum-senyum aja.
“Trus pas uangnya udah diambil, aku pergi ke kamar buat ambil baju. Pas mau ke sini malah ditampar. Tiba-tiba botol kacanya dipecahin abis tu digores ke pipi aku. Untung aku cepet-cepet lari kesini.”
Jungwon mengangkat wajah cantik Sunoo untuk menghadapnya, menggesekkan hidungnya dengan hidung kecil kemerahan itu. “Kan aku udah sering nawarin buat nemenin kamu, tapi kamunya malah bandel. Tau-tau pas pulang nangis karena luka. Haduhh, untung sayang.”
“Aku kan ga mau ngerepotin Wonie~” ujar Sunoo dengan cengiran lucunya.
Tak!
“AAAK! KOK DISENTIL SIH?!” Pekik Sunoo sambil mengusap dahinya yang terkena sentilan pelan dari Jungwon.
Cup
“Aku gak pernah ngerasa direpotin, karena kamu kewajiban aku, tanggung jawab aku. Jadi tolong bibir cantikmu ini berhenti bilang kalo kamu ngerepotin aku, aku gak suka.” Jungwon terkekeh saat melihat rona merah di pipi putih Sunoo.
“Heung... iya deh, maaf.”
“Iya, dimaafin. Kalo gitu kamu istirahat dulu ya, pasti kepala sama pipinya masih sakit, kan?”
“Gendong~” Bibir pout, binar mata redup, pipi merah merona dengan tangan yang direntangkan meminta untuk digendong. Sekarang iru tanya, siapa yang bisa menolak pesona si manis ini?
•••
“Eumh...”
Mata bak rubah itu terbuka, melirik ke kiri untuk menemukan kekasihnya, yang ternyata sudah hilang entah kemana.
“Wonie...” Panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Merasa tak ada jawaban, ia membawa tubuhnya keluar kamar. Melangkahkan kakinya ke dapur, ruang tengah, hingga yang terakhir, halaman belakang. Dan sesuai tebakannya, ia menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Greb!
“Wonie~~” Memeluk sosok itu dari belakang dan menduselkan wajahnya di punggung lebar tersebut.
“Eh? Sudah dulu ya Ni-ki, makasih banyak.”
Mematikan ponselnya lalu berbalik dan membawa si mungil ke gendongannya.
“Kenapa bangun, hm?”
“Ga ada kamu yang meluk.”
“Hahaha, bisa aja sih.”
“Oh iya, Wonie tadi telponan sama Ni-ki ya? Kamu diapain sama bocah tengil itu?” Karena Sunoo tahu saat disekolah dulu Ni-ki memiliki title 'anak nakal', namun berteman baik dengan kekasihnya yang kalem dan tidak banyak tingkah, Jungwon.
“Ga diapa-apain, kok. Cuman minta tolong aja.” jawab Jungwon dengan senyumannya, jangan lupakan palung mariana dipipinya.
“Eoh, minta tolong apa?” tanya Sunoo penasaran, sangat-sangat penasaran. Mengapa kekasihnya yang memiliki banyak uang dan anak buah ini meminta tolong pada anak nakal bentukan Ni-ki?
Mengecup dahi mulus dihadapannya, Jungwon menjawab “Nanti kamu juga tau.”
•••
Siang itu, Sunoo berlari di lorong rumah sakit diikuti dengan Jungwon yang berjalan santai dibelakangnya. Sesekali menegur Sunoo untuk berhati-hati agar tidak terjatuh.
“Dengan Tuan Kim Sunoo?”
“Iya.”
“Ayah anda meninggal pada pukul dua pagi hari ini. Kami menemukan puluhan obat tidur dilambungnya, yang membuat overdosis hingga mengakibatkan kematiannya.”
. pluvioseleno