Double Mischievous

cw // mention of other idol, other ship. slight ship – sungsun

“SUNOO! RIKI!”

“ASTAGA KABUR NOO!”

“HEH JANGAN LARI KALIAN!”

“RIKI CEPETAN!!”

“Ngapain lagi itu anak dua...” ujar Heeseung yang menyaksikan adegan kejar-kejaran antara Miss Seungyeon dengan dua anak nakal kebanggaan sekolah.

“Biasalah!” sahut Jake yang ikut menyaksikan hiburan itu dibelakang Heeseung.

“Betewe Sunoo makin cakep aja, apalagi lari-larian gitu beuh keringetnya pen gw lap deh.”

Plak!

“Buset! Jay, lu mukul pake tenaga dalam apa gimana dah? Sakit banget anjir.” Ya, yang bicara tadi Sunghoon dan mendapat geplakan manis dari Jay.

“Inget status, bego.” ujar Jay dibalas anggukan oleh Jake.

“Udah mantan juga, dia udah gak bakal balik ke lu lagi. Mending cari yang baru aja.” ucap Jake sambil tersenyum mengejek.

“Ke siapa? Lu?”

“Idih, ogah! Gw masih sadar kodrat ya anjir.” Jake bergidik geli.

“Ya gw juga ogah sih. Huh, bang... lu dukung gw kan?” tanya Sunghoon pada Heeseung.

Heeseung melirik lalu mengangkat bahu, “Siapa suruh goblok, nyesel kan jadinya. Bisa-bisanya dia ngira Bang Younghoon tuh papa gulanya Sunoo. Bisa-bisanya dia gatau kalo Sunoo punya abang. Parah sih, bukannya nanya malah langsung nethink sama pacar sendiri, minta putus, pas putus malah nyesel. Ngakakin aja sih.”

“Pfft-HUAHAHAHAHAHAH!”

“Bang Heeseung kalo ngomong nyucuk banget, gak kasian sama hati Sunghoon yang udah rapuh.” tambah Jay yang membuat ketiganya tertawa lepas, sangat berbanding dengan wajah Sunghoon yang menampilkan ekspresi datar.

Baiklah mari kita tinggalkan para kakel ini dan beralih ke ruang guru.

“Kalian ini ya, kenapa sih doyan banget bikin masalah? Untung kalian pinter, kalo gak udah saya geprek trus saya kasih makan buat ikan-ikan di kolam.” omel Mrs. Sowon, guru bk yang galaknya.... jangan ditanya deh 🙂

“Aduh Mistress, jangan galak-galak deh. Ntar cantiknya kurang, Mr. Seokjin jadi gak cinta.” sahut Riki dengan kurang ajarnya.

“Diam kamu Riki!” Seru Mrs. Sowon yang sudah terlampau lelah dengan dua anak yang duduk didepannya ini. Yang satu duduk dengan santai seperti tak punya beban dan yang satu lagi duduk kalem dengan wajah polos.

“Sehabis pulang sekolah, bersihin daun-daun di halaman belakang. Harus bersih, nanti saya periksa.”

“Tapi Mistress, kan daun-daun itu baik untuk tanah. Dalam beberapa hari daun-daun itu bakal mengurai dan membuat tanah dihalaman belakang menjadi subur.” ucap Sunoo dengan kalemnya, berbanding terbalik dengan kelakuannya.

“Ga usah banyak presentasi ya Sunoo. Pokoknya jam lima sore halaman belakang sudah harus bersih.”

Sunoo dan Riki membulatkan matanya. Hei, bel pulang berbunyi pukul setengah lima jadi mereka hanya memiliki waktu setengah jam untuk membersihkan halaman belakang yang besar -menurut mereka- itu?

“Tapi Mis-”

“Sudah-sudah, sebentar lagi bel masuk mending kalian pergi ke kelas daripada bikin saya makin pusing.” Mrs. Sowon melambaikan tangannya tanda mengusir mereka berdua dari ruangannya.

“Parah banget cuman dikasih waktu setengah jam buat bersihin tuh halaman belakang kosplei lapangan.” gerutu Riki disela-sela perjalanan mereka menuju kelas.

“Ya gapapa sih, daripada gabut dirumah kan? Mending pulang sekolah sekalian capek, mandi, makan, langsung tidur.” balas Sunoo dengan senyum manisnya, senyum yang selalu menjadi candu Riki sejak empat tahun yang lalu.

•••

“Semuanya, mohon perhatiannya.”

Kelas yang semula gaduh itu tiba-tiba menjadi senyap, semua mata menatap kearah Jungwon.

Miss Yurina lagi sakit, jadi...” Jungwon menggantungkan ucapannya, memancing emosi dari kawan sekelasnya.

“Apaan, Won? Ada tugas? Aelah sempat-sempatnya tugas.” sahut Seongmin dengan suara cemprengnya yang dibalas gelengan dari Jungwon.

“Trus apa? Tugas kelompok?” jawaban berupa gelengan diberikan Jungwon atas pertanyaan Kyungmin.

“Jadi apa, yang? Jan bilang kita disuruh google meet sama Miss Yurina.” tebak Haruto, kekasih Jungwon.

“Bukan ih, Ruto!! Kalian ini mentang-mentang kelas unggulan yang dipikirin tugas teros!!” kesal Jungwon, karena tidak ada yang menebak dengan benar.

“Jadi apa? Jamkos?” tebak Sunoo asal.

“Alhamdulillah! Yaampun emang cuman Sunoo yang jeko, yang lain mah bengbeng. Apalagi Haruto, wafelo!” seru Jungwon yang membuat kelas heboh. Sangat jarang kelas mereka dapat jamkos apalagi di jam terakhir seperti ini, enak dipakai buat tidur, pas pulang bisa ngelayap, aih sedapnya~

“Jungwon,” panggil Sunoo.

“Kenapa, Noo?” tanya Jungwon yang sedang memasukkan barangnya ke dalam tas, berniat menjadikannya bantal.

“Aku sama Riki ijin ya sampe pulangan.” ucap Sunoo yang membuat Riki membulatkan matanya. Dia baru mau masuk ke alam mimpi!

“Oh aman, tapi tas di tinggal ya. Takutnya ada guru yang masuk buat mulangin, jadi gampang tinggal bilang kalo lu pada di toilet.” Jungwon kembali membaringkan kepalanya diatas tasnya, menikmati elusan dari Haruto.

“Okee, makasih Jungwon. Ayo Riki!” Yah seperti biasa, Riki hanya pasrah ditarik Sunoo.

Kini mereka ada dihalaman belakang yang dibilang besar juga tidak besar-besar amat, yang dibilang kecil juga tidak kecil-kecil amat. Yah, kalau dipakai main sepak bola bisa lah. Tapi jarang yang mengunjungi tempat ini karena ada pohon besar jadi cukup gelap, dan kata Doyoung pohon itu berhantu. Halah, Riki pernah bolos sampai ketiduran dan bangun pukul delapan malam disana. Syukur sih sampai sekarang masih sehat-sehat aja, dan tidak mengurangi kadar bucin ke Sunoo, eh.

“Ngapain, Noo?” tanya Riki saat Sunoo menyerahkan sapu ke tangannya.

“Bersihin, lah. Setengah jam mana cukup. Riki gak liat ini penuh daun coklat sampe rumputnya aja ketutupan?” omel Sunoo yang dibalas kekehan dari Riki.

Akhirnya mereka mulai menyapu halaman belakang, menumpuk dedaunan di dekat pohon. Dan dalam setengah jam, halaman belakang terlihat lebih bersih dari sebelumnya.

“Harusnya gw tidur dulu tadi, buktinya ni stengah jam dah kelar.” oceh Riki sambil merebahkan tubuhnya diatas rumput.

Sunoo mendengus, “Sebenernya bisa lebih cepat kalo Riki gak banyak ngoceh sambil ngerdusin aku.”

Riki menanggapi ucapan Sunoo dengan kekehan. Ia terduduk, menatap kesamping dimana Sunoo sedang bermain dengan kucing sekolah.

“Manis...” gumam Riki.

“Hm? Kenapa Riki?” pertanyaan dari Sunoo membuat Riki tersadar akan hal yang baru saja diucapkannya.

“Eh? Manis, itu... kucingnya manis. I-iya, kucingnya manis.” jawab Riki gelagapan. Sunoo menatapnya bingung lalu mengedikkan bahunya, memilih melanjutkan untuk bermain dengan kucing putih di pangkuannya.

“Noo...”

“Heum?” Balas Sunoo tanpa menolehkan kepalanya.

“Sunoo.”

“Iya?”

“Kim Sunoo.”

“Iya, kenapa Riki?”

“Nishimura Sunoo.”

“IYA, KENAP—” Sunoo menoleh dan menghentikan ucapannya saat ia tersadar akan panggilan Riki barusan.

Menatap pipi merah Sunoo, Riki terbahak. “Asik, iya nih? Sudah ganti nama keluarga ya?”

“APASIH RIKI GA JELAS BANGET!” Sunoo memukul lengan Riki, yang tentu saja tidak ada sakitnya.

“Sunoo.” panggil Riki saat tawanya sudah reda.

“Apa?” balas Sunoo ketus.

“Jangan galak-galak dong, manisnya nambah nanti aku khila— AAK IYA AMPUN!” Riki mengelus lengannya yang terasa nyeri akibat cubitan Sunoo. Jarinya doang mungil dan lentik tapi kalo nyubit sakitnya... coba tanya Riki.

“Oke-oke, kali ini serius. Sunoo...” panggil Riki dengan nada lembut.

“Hm?”

“Jadi pacarku, yuk?”

Sunoo menolehkan kepalanya, mentap Riki dengan pipi merah. “A-apa?”

“Jadi pacarku, jadi pacarnya Nishimura Riki.” ujar Riki tanpa mengubah nada bicaranya sedikit pun.

Sunoo terdiam, “Sejak kapan?”

Dengan senyuman tulus, Riki berucap, “Empat tahun lalu, kelas 2 sekolah menengah. Selama itu aku nyimpen rasa ini buat kamu. Kamu tau? Hatiku nyeri saat kamu ngabarin kalo kamu jadian sama Kak Sunghoon. Inget waktu aku ketiduran disini sampe jam delapan malam? Aku nangis, aku nangis sampe ketiduran. Aku marah pas tau kamu putus karena alasan gak jelas. Aku pengen banget ngehajar Kak Sunghoon waktu itu, tapi aku ngehargain ucapan kamu. Kamu minta aku buat gak ngelukain Kak Sunghoon, dan stay disampingmu terus. Dan disinilah puncaknya, aku udah gak tahan buat mendem ini lagi, aku pengen milikin kamu, aku mau kamu. Nishimura Riki ingin menjadikan Kim Sunoo sebagai miliknya, hanya miliknya. So, can i be your boyfriend?”

Menaruh atensi penuh pada manik Riki, Sunoo sama sekali tidak menemukan kebohongan melalui mata itu.

Cup

Yes, you can.

Riki segera berdiri dan menarik Sunoo bersamanya. Menggendong tubuh yang lebih mungil dan membawanya menuju tumpukan daun yang tadi mereka bersihkan.

Brugh!

“RIKI!!” pekikan Sunoo terdengar bersamaan dengan daun-daun yang berserakan.

. pluvioseleno