I Wanna Hear Your Story
cw // mention of suicide, child abuse
Sore itu, sekolah sudah hampir kosong. Begitu pula dengan isi kepala seorang pemuda yang tengah berdiri di pagar pembatas rooftop gedung sekolah.
'Satu langkah, hanya satu langkah lagi..'
Grep!
“GILA KAMU?”
Pemuda itu terkejut saat tubuhnya dipeluk dan ditarik ke belakang, menjauh dari pagar pembatas. Tubuhnya didudukkan diatas kursi rusak, sebelum sebuah wajah familiar muncul dihadapannya.
“Aku tau kamu capek, kamu ga kuat sama semua ini. Tapi ga gini, Sunoo! Ada aku, aku selalu bilang buat cerita sama aku. Sesusah itu kah? Cerita, cerita Sunoo! Kamu butuh sesuatu? Bilang! Kasih tau aku, bakal aku sanggupin. Apapun, apapun bakal aku kasih buat kamu..”
Orang itu memeluknya, mendorong kepalanya untuk bersandar dibahu tegap itu. Ah, dia sendiri tidak sadar bahwa ia tengah menangis.
“Jaeyun..”
“Shh, selesaikan dulu nangisnya. Aku ga mau kamu sesak napas karena ngomong sambil nangis.” ujar Jaeyun sambil menepuk kepalanya Sunoo.
Di luar dugaan, Sunoo menepis tangan Jaeyun. “Engga, Jaeyun! Ga gini, harusnya kamu ga usah peduli sama aku lagi. Aku cuma ngerepotin kamu. Jangan peduliin pesan mama buat jagain aku, karena aku sendiri juga capek. Aku capek, Jaeyun..”
“Sunoo, aku peduli sama kamu karena aku sendiri yang mau jagain kamu, aku sendiri yang mau bikin kamu seneng, bukan semata-mata pesan mama. Maaf ya, seminggu aku olim bikin kamu sendirian kan? Mau cerita? Ayo cerita, seminggu ini kamu ngapain aja? Aku mau denger.” ujar Jaeyun sambil menangkup pipi Sunoo yang basah karena air mata.
“Loh, kok makin nangis? Ada yang sakit ya? Kita ke rumah sakit dulu, periksa badan kamu? Ceritanya dirumah aku aja nanti, ya? Nanti aku peluk sampe kamu bobo, mau?”
“Huwaaa!”
Panik, Jaeyun jelas panik. Dia salah bicara kah?
“Sunoo kenapa? Jangan nangis loh aku bingung ini. Kamu marah karena aku ga ada hubungin kamu seminggu ini? Aku ada kok, cuma kamu aja yang ga bales. Aku telpon juga ga diangkat. Kuota data kamu abis kah?”
Bugh!
“Shh, kenapa dipukul akunya?” desis Jaeyun sambil mengelus pundaknya yang baru dipukul Sunoo.
“Kamu balik olim makin ngelantur. Stres kah?”
Mengangguk, Jaeyun segera mengangkat tubuh Sunoo dipundaknya ala karung beras. “Iya, stres karena ga ketemu kamu seminggu. Sekarang kita ke rumah sakit dulu, pasti ada lebam baru dibadan kamu.”
•••
“Sehari kamu pergi, aku balik ke rumah karena mau ambil buku. Trus ternyata ayah ada didalam, aku ga tau karena dia nyembunyiin sepatunya. Dia bener-bener marah ga nemuin aku dirumah, kulkas ga ada soju sama sekali. Jadi aku dipukul pake botol pajangan dia. Sialan emang, botolnya ga pecah malah kepala aku yang berdarah.”
Jaeyun hanya terkekeh sambil mengelus rambut Sunoo yang tengah bersandar di dadanya. Oh iya, kini keduanya berada dikamar Jaeyun. Berpelukan diatas kasur, berhadapan dengan televisi besar yang menampilkan seekor kelinci dan ayam kuning.
“Aku kabur kesini terus nyolong kotak obat kamu lagi, aku perban sendiri tapi ya kayak kata dokter tadi.. aku ga bener perbannya hehe.” lanjut Sunoo sambil terkekeh, takut diomeli Jaeyun.
“Terus kenapa tadi pake acara mau lompat segala? Biar apa? Biar aku sedih, iya?” tuntut Jaeyun pada Sunoo yang sekarang cemberut sambil membuat pola abstrak di dada Jaeyun.
“Mana ada aku mau lompat.” sanggah Sunoo, masih tidak berani menatap Jaeyun.
“Kaki kamu tinggal lepas napak sebelah, kamu pikir aku ga liat?”
Pola abstrak itu berganti dengan eratan kuat pada kaos Jaeyun.
“Sunoo.”
“Aku capek.” jawab Sunoo singkat.
“Terus kalo capek mau udahan, gitu? Kamu kalo capek ngerjain ujian, langsung kumpul gitu? Engga kan, pasti rehat sebentar terus dilanjut lagi. Ya sama, kayak gitu juga. Ga ada yang larang kamu istirahat, kamu juga bisa istirahat disini. Bawa barang kamu kesini semua juga gapapa, seneng aku malah.” ujar Jaeyun dengan kekehan menyebalkan diakhir.
“Jangan macem-macem, kita cuma temen.” Sunoo memicing tajam pada Jaeyun.
“Yaudah, kita nikah aja biar bisa macem-macem?”
Bugh!
“Ampun, sakit banget..”
.pluvioseleno