Illusion

tw // fantasy, mention of death, mention of blood

“Akhirnya kamu dateng juga!”

Jake hanya tersenyum simpul saat sang tuan muda berseru karena kehadirannya. Jake merasa bahwa ada benarnya Tuan dan Nyonya Savoia menyewa *bodyguard” untuk menjaga putra semata wayang mereka. Sang tuan muda terlihat sangat rapuh, apalagi kulitnya yang pucat pasi membuatnya terlihat semakin perlu untuk dilindungi.

“Ayo!” seru sang tuan muda seraya menarik tangannya untuk memasuki hutan dibelakang mansion keluarga Savoia.

Untungnya malam ini bulan purnama, sehingga langit tidak begitu gelap.

Mereka berdua berjalan cepat melewati pohon-pohon berbatang besar, dihiasi dengan sinar bulan yang mengintip dari sela-sela dedaunan.

Jujur, Jake agak takut. Tapi tuan mudanya terlihat sangat berani, mau ditaruh dimana mukanya jika ia ketakutan?

Jake tersadar saat tangannya sudah tidak digenggam, dan sekarang ia sendirian di tengah hutan. Dimana tuannya? Ah sial, hari pertama bekerja ia sudah gagal menjaga sang tuan muda.

Jake berjalan terus ke dalam hutan, berusaha mencari sang tuan nuda yang menghilang. Atau malah dirinya yang menghilang?

Tiba-tiba, Jake merasa ada yang mengikuti dari belakang. Ia seorang ahli beda diri, tentu indra waspadanya selalu aktif. Sayangnya ia tak menemukan apa-apa selain daun kering yang jatuh saat ia membakikkan tubuhnya.

'Tuan muda ga mungkin jauh dari sini, aku harus nemuin dia sebelum dia kenapa-napa.' batin Jake berujar.

Anehnya, ia selalu merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Beberapa kali berbalik, tidak ada yang temukan. Jujur, Jake ingin keluar dari hutan ini. Namun ia tak mungkin pergi begitu saja meninggalkan tuan mudanya yang mungkin tengah kesulitan.

Perasaannya semakin kuat, jadi Jake mempercepat langkahnya. Berusaha menghalau kemungkinan seram apa saja yang tengah mampir di pikirannya.

“Jake!”

Puji Tuhan.

Tuan mudanya datang dengan senyum lebar hingga matanya menyipit. Sungguh menggemaskan.

“Eh kok muka kamu kayak panik gitu? Jangan panik, nih kamu jadi keringet dingin.” Jake merinding saat tangan dingin sang tuan muda menyentuh keningnya.

“Kita jalan-jalan dulu yuk, malam ini bulan purnama jadi makhluk-makhluk hutan lagi pesta. Sekalian cari angin biar panik kamu reda.”

Pasrah, Jake hanya mengikuti sang tuan muda dari belakang. Hingga akhirnya mereka sampai di padang rumput yang luas, membuat Jake tertegun sejenak.

“Hah, suasana hatiku lagi bagus malam ini.” ujar sang tuan muda sambil merebahkan tubuhnya diatas rerumputan.

“Tuan Muda Savoia, baju anda bisa kotor.” ujar Jake memperingatkan.

“Sunoo! Panggil aku Sunoo.” balas sang tuan muda tanpa menghiraukan ujaran Jake sebelumnya.

“Baik, Sunoo.” Jake hanya patuh, duduk di sebelah sang tuan muda yang masih merebahkan tubuhnya.

“Tau gak, dulu disini tuh tempat pesta.” ujar Sunoo yang membuat Jake mengernyitkan keningnya.

“Semuanya pesta disini, bawa makanan mereka masing-masing. Terus sisanya kita buang ke jurang disana, ga lupa kita timbun pake tanah biar mereka tenang.”

Jake masih tak dapat memahami ujaran Sunoo. Kalimat-kalimat itu sangat membingungkan.

“Kamu juga, Jake.”

“Juga apa, Sunoo?” Jake terkejut saat wajah Sunoo tepat berada di depannya.

“Juga kerasa enak..” lirih Sunoo sebelum Jake merasakan sakit pada lehernya dan ia kehilangan kesadarannya.

•••

Jake mengerjapkan matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah langit malam yang dihiasi cahaya bulan purnama.

“Oh, kamu hidup!” Sebuah pelukan erat ia terima, dan itu dari tuannya.

Jake yang masih linglung pun memegang lehernya yang terasa kram dan benar saja, terdapat dua luka kecil disana.

“Orang-orang sebelumnya bakal langsung mati kalo aku minum darahnya, tapi kamu engga. Emang hadiah dari ayah itu selalu yang terbaik!”

.pluvioseleno