Kangen
Pip pip pip pip
Cklek!
“Kecil...”
“Di dapur!”
Sunghoon menaruh beberapa totebag di atas meja ruang tengah, lalu pergi menghampiri kekasihnya yang tengah mengaduk minuman.
“Bikin apa?” tanya Sunghoon pelan sambil melingkarkan kedua lengannya dipinggang Sunoo dari belakang.
“Americano buat kakak dan latte buat Sunoo!” jawab Sunoo riang sambil kembali menuangkan kopi ke dalam gelas milik Sunghoon.
Sunghoon menghujani pipi tembam si manis dengan kecupan. Astaga, ia sangat merindukan kekasih gemasnya.
“Kecil, kakak kangen...”
“Lah, yang ninggalin kan kakak. Kok kakak juga yang kangen?” ujar Sunoo sambil tertawa pelan.
“Sehari gak ketemu kamu aja udah kayak mau mati, apalagi gak ketemu kamu tiga hari.”
“Tapi kakak masih sehat aja nih.”
“Jadi kamu mau kakak mati?” ujar Sunghoon syok.
“Heh, mulutnya! Sunoo gak ada bilang kayak gitu ya.”
“Haha, iya deh. Udah selesai, kan? Hayuk nonton, mau peluk.” ujar Sunghoon setelah Sunoo selesai dengan minuman mereka, tapi kedua lengannya masih terlingkar di pinggang si manis.
Sunoo merengut, bibirnya melengkung turun. “Lepas dulu ih, dari sini ke ruang tengah gak sampe lima menit.” ujarnya kesal
Akhirnya sang dominan pun melepaskan pelukannya. Ia tak ingin kekasihnya kesal disaat dia sedang ingin manja-manja karena habis melakukan perjalanan ke Busan selama tiga hari.
“Eoh, banyak banget? Kakak bawa apa aja?” tanya Sunoo saat ia melihat meja yang sebagian dipenuhi oleh totebag.
“Liat aja deh, kakak males nyebutin satu-satu.” jawab Sunghoon setelah menyesap americano-nya. Ia merengkuh pinggang Sunoo, merapatkan jarak keduanya lalu mengambil remot tv dan mengotak-atik akun netflix si manis-yang dibayar oleh Sunghoon.
Sunoo pun memeriksa totebag-totebag itu. Kekasihnya hanya pergi ke Busan dan mereka tidak bertemu selama tiga hari, tapi kenapa ia membawa banyak sekali oleh-oleh? Sunoo juga bingung, sebenarnya pacar tampannya ini pergi kerja atau liburan?
“Hoodie...”
“Hoodie...”
“Ih, jaketnya lucu!!”
“Hoodie...”
“Wah, kaos kakinya gemes!”
“Hoodie...”
“Lagi...”
“Lagi...”
“Kak, ini hoodienya banyak bang-”
“Aaw, boneka rubah! Lucu banget!”
Sunghoon yang tidak tahan dengan celotehan itu pun langsung membawa si manis ke pangkuannya. Mendekapnya erat dari belakang dan menghujani tengkuk putih itu dengan kecupan. Ditinggal tiga hari saja kenapa dia menjadi semakin menggemaskan?
“Kak Hoon...” panggil Sunoo.
“Hmm?” gumam Sunghoon yang sedang sibuk dengan kegiatan mari menghirup rambut Sunoo.
“Terima kasih banyak.”
“Sama-sama. Kamu suka?”
“Banget, tapi hoodienya kebanyakan. Mana ukurannya besar-besar.” ujar Sunoo sambil mempoutkan bibirnya.
Cup!
“Kamu gemes, kalo pake itu gemesnya jadi makin nambah. Sering-sering dipake hoodienya ya.”
“Eum! Sayang Kak Hoonie~” ujar Sunoo sambil berbalik dan memeluk leher Sunghoon.
•••
“Hoo- anjir kenapa sepet tuh muka? Kan kemaren udah ketemu sama Sunoo?” ujar Jake dengan tidak ada akhlaknya memasuki ruangan Sunghoon, mana gak ngetok pintu pula.
“Gw kangen, sehari mana cukup.” jawab Sunghoon sambil menghirup aroma hoodie Sunoo yang habis dipakai tidur semalam. Aroma Sunoo sangat khas, dan Sunghoon menghalau rindunya dengan menghirup aroma dari hoodie itu.
“Buset bucin, jan lupa ada meeting setengah jam lagi. Gosok tuh hoodie di jas lo, kan ga mungkin kalo lo meeting sambil hirup-hirup hoodie.” kata Jake lalu duduk di sofa ruangan itu, memeriksa jadwal Sunghoon melalui iPadnya.
“Hmm boleh juga ide lo, ga salah gw pilih jadi sekretaris gw.” ucap Sunghoon yang membuat Jake menatapnya horor. Oh ayolah, dia hanya bercanda tapi kenapa direktur satu itu menanggapinya dengan serius?
“Ini bukan bucin, tapi bulol.” ujar Jake lalu kembali berkutat dengan iPadnya, mengabaikan Sunghoon yang sibuk menggosokkan hoodie Sunoo ke jasnya.
. pluvioseleno