Love Me Once Again

One day in March, 2016

“Eh, mampir situ dulu yuk!”

Sunoo yang sedang asik memandang jalanan langsung terkejut saat tangannya ditarik kencang oleh Jungwon, sahabatnya. Tapi ia hanya diam dan menurut karena Jungwon membawanya ke kedai es krim, pas sekali dengan cuaca panas hari ini, ditambah mereka baru saja menyelesaikan ulangan matematika.

“Nih.”

Sunoo menerima cup es krim yang disodorkan Jungwon, mengucapkan terima kasih dan kembali mengikuti yang lebih muda menuju salah satu bangku taman yang berada di dekat pohon besar.

“Enak?” Jungwon menoleh dan menunggu jawaban dari pemuda manis disampingnya.

“Enak, enak banget! Makasih, Jungwon.” Sunoo tersenyum manis, membuat pipi Jungwon sedikit memerah. Untung saja cuaca sedang panas, mungkin Sunoo akan berpikir bahwa wajahnya memerah karena kepanasan.

Kurang lebih lima menit waktu yang mereka gunakan untuk menghabiskan cup kecil es krim tersebut.

“Sini biar gw buang.” Sunoo menyerahkan cup es krimnya dan duduk manis menunggu Jungwon yang tengah membuang cup itu.

“Sunoo.”

“Eh, udah? Mau pulang sekarang?” Sunoo berdiri dan merapikan seragamnya, namun ditahan oleh Jungwon.

“Kenapa?” Sunoo memandang bingung saat Jungwon meraih kedua tangannya.

“Sunoo, kita udah kenal lama. Udah tau sifat satu sama lain. Ya gw ga tau gimana caranya buat ngungkapin ini, jadi maaf banget kalo ga romantis.” Jungwon tersenyum simpul sedangkan Sunoo masih senantiasa menanti kata-kata yang keluar dari bibir Jungwon.

“Gw suka sama lu, gw ga tau kapan perasaan ini muncul. Tapi dari hati gw yang paling dalam, gw bener-bener tulus, suka sama lu. Jadi, mau ga jadi pacar gw?” Akhirnya Jungwon memberanikan untuk menatap mata kecoklatan milik Sunoo.

Ia tak tahu apa respon Sunoo. Tapi ia mengharapkan wajah terkejut, senyuman lebar, dan kata 'Ya!' dari bibir tipis itu.

Sunoo tersenyum, sangat manis hingga matanya menyipit. Ia balik menggenggam tangan Jungwon, mengelus telapak tangan yang agak kasar itu. “Jungwon, gw tau. Gw ga bodoh, jadi gampang banget buat tau kalo lu suka sama gw. Gw bener-bener menghargai perasaan lu, tapi gw minta maaf ya? Gw ga bisa nerima permintaan lu. Gw takut, kalo seandainya nanti kita putus, persahabatan yang udah kita jalin dari kecil ini jadi rusak.”

Ah, ternyata ekspektasi Jungwon terlalu tinggi.

•••

One day in March, 2021

Jungwon menoleh saat ponselnya berdering. Itu panggilan dari Sunoo. Segera saja dia bangkit, meminta ijin kepada seorang pria manis dengan sebuah laptop dan dua gelas kopi yang masih penuh.

Tak lama, Jungwon kembali dengan raut wajah cemas. “Jinwoo, Sunoo lagi butuh aku. Study date kali ini kita tunda dulu, ya. Ayo, aku antar pulang.”

Jinwoo, pemuda itu tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya, lalu berkata. “Aku masih mau disini, lebih baik kamu langsung datengin Sunoo aja.”

“Yakin, nanti pulangnya naik apa?” Jungwon kembali bertanya dengan nada khawatir, membuat hati Jinwoo sedikit menghangat karena pemuda itu masih memikirkannya.

“Nanti aku bisa naik ojol. Udah, mending kamu susulin Sunoo aja. Dia pasti lagi butuh kamu.”

Jungwon membereskan barang bawaannya, lalu berkata sambil mengelus surai hitam pemuda manis itu. “Yaudah, aku pergi dulu. Kamu hati-hati ya.”

“Ya.” lirih Jinwoo. Senyum tipis masih terpatri di bibirnya.

Bohong, bohong sekali jika dia baik-baik saja. Tapi dia bisa apa? Sunoo, pemuda cantik itu sudah lebih dulu mengambil hati kekasihnya. Walaupun mendapat penolakan, tapi Jungwon masih bersikap seolah-olah mereka bukanlah sahabat.

Jinwoo bukan orang bodoh, dia tahu jelas bahwa kekasihnya masih menyimpan rasa pada pemuda yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu. Dan disinilah bodohnya, Jinwoo masih mengharapkan Jungwon. Sama seperti Jungwon, yang masih mengharapkan Sunoo.

•••

“Padahal aku udah bilang kalo aku sama kamu itu cuma sahabatan, tapi Kak Minhee malah marah. Dia bilang kalo aku sama kamu itu bukan kayak sahabat. Aku capek ngasih tau dia, padahal udah jelas perhatian aku tuh cuma buat dia.” Sunoo menenggelamkan wajahnya diatas bantal, sedangkan Jungwon yang duduk disampingnya hanya mengelus surai pirang sang sahabat dengan raut datar.

“Jangan nunduk gitu, nanti punggungnya sakit.” Jungwon menepuk punggung Sunoo, membuat Sunoo kembali duduk bersila dengan bantal yang tak lepas dari wajahnya.

Jungwon memberanikan diri untuk mengelus pipi basah Sunoo, mengelap air mata itu dengan pelan.

“Udah, jangan nangis. Wajar dia marah, mungkin dia takut kalo kamu jadi suka sama aku karena kita deket banget.”

Sunoo hanya diam, menikmati elusan Jungwon di pipinya. Ia memejamkan matanya, merasakan jempol Jungwon yang semula mengelus pipinya kini berpindah menuju bibirnya.

“Kamu ngapain?!” Sunoo terkejut saat ia membuka matanya dan melihat wajah Jungwon yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia segera mendorong tubuh tegap itu, membuat Jungwon jadi tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya.

Sunoo menatap Jungwon dengan tajam, sedangkan Jungwon hanya mengusak rambutnya kasar.

“Jungwon, udah gw bilang kan? Tolong lupain perasaan lu! Gw udah punya pacar, lu juga! Apa kata Jinwoo kalo dia tau, dan apa kata Kak Minhee kalo dia sampe tau? Mikir, Won!”

Jungwon meremat surai hitamnya, kepala itu menunduk. “Maaf...” lirihnya.

“Jungwon,” Sunoo menjeda ucapannya. “Tolong, kita sama-sama punya hati yang harus dijaga. Lupain perasaan lu ke gw, ada Jinwoo yang senantiasa nemenin lu, yang selalu ada buat lu.”

Dan pembicaraan itu diakhiri dengan Jungwon yang mengucapkan selamat malam pada Sunoo yang sudah terlelap.

•••

One day in May, 2021

Sunoo menangis. Hari ini, hubungannya kandas dengan Minhee. Tidak, bukan karena Jungwon. Melainkan karena Minhee akan pindah, dan ia tak bisa melakukan hubungan jarak jauh.

Sekarang Sunoo sedang duduk meringkuk diatas kasurnya, dengan tangan menggenggam ponsel yang tengah melakukan panggilan pada Jungwon.

“Halo, Sunoo?”

“Jungwon, a-aku...”

“Nanti dulu ya Noo, Jinwoo sakit. Aku bakal hubungin lagi.”

Dan panggilan itu terputus sepihak, meninggalkan Sunoo yang tersenyum kecut.

Seperti ini kah, rasanya ditolak?

•••

One day in June, 2021

Sunoo sedang berjalan santai menuju gedung fakultasnya, namun ia berhenti saat mengenali suara dari dalam toilet.

“Kamu masih ada rasa sama Sunoo...”

“Jangan ambil kesimpulan sendiri, Jinwoo. Aku udah jarang main sama dia, bahkan aku lebih sering nemenin kamu kemana-mana.”

“Kita break dulu ya, biar bisa mantepin rasa satu sama lain.”

Mendengar suara langkah kaki, Sunoo segera menjauh dari toilet. Dan benar saja, Jinwoo keluar dari toilet dengan air mata yang mengering di pipinya.

Sunoo memberanikan diri untuk memasuki toilet. Di depan wastafel, ada Jungwon yang tengah mengusak rambutnya, sesekali menggeram kesal.

“Jungwon...” panggil Sunoo, namun diacuhkan oleh Jungwon.

“Jungwon, kamu kenapa? Tadi aku liat Jinwoo keluar dari sini, tapi dia keliatan abis nangis. Kalian kenapa?” Sunoo mencoba untuk menepuk pundak Jungwon, sebelum tangannya dicengkeram kuat.

Jungwon mengangkat kepalanya, menatap Sunoo dari pantulan cermin wastafel.

“Sunoo.”

“Iya, kenapa Jungwon?”

Kini Jungwon berbalik dan menatap Sunoo langsung pada matanya.

“Berhenti.”

Satu kata yang keluar dari mulut Jungwon membuat Sunoo terdiam.

“Apa?”

“Berhenti, berhenti mendekatiku. Kamu sendiri yang bilang buat lupain perasaan itu? Sekarang, gantian kamu yang harus lupain perasaanmu itu. Aku udah sayang sama Jinwoo, aku harap kamu bisa ngerti.”

Setelah mengatakan itu, Jungwon pergi meninggalkan Sunoo yang menunduk.

Ah, jadi Jungwon sudah mencintai Jinwoo? Baguslah, itu berarti...

Sunoo tidak akan pernah bisa memiliki hati Jungwon, lagi.

a/n: apa ini? ga ada feelnya ㅠㅠ iru ngetik sambil ngantuk, trus males revisi jadi ya maapkeun kalo ada typo. ini angst ya? ga tau deh, iru pas ngetik biasa aja sih ga ada senyum-senyum kayak ngetik fluff biasa, jadi ga tau ini kerasa angst nya atau ga. untuk sender sc, udah ya bestie :>

. pluvioseleno