Summer Holiday

“Baiklah, kita akhiri pelajaran hari ini. Oh iya, mulai minggu depan kalian akan liburan musin panas. So, see you in five weeks. Goodbye and have a fun holiday!” ujar Miss Rosé sebelum keluar dari kelas.

“YEAYYY!!”

“YUHUU”

“ASIKK LIBURAN!!”

Kelas Sunoo langsung ribut dalam sekejap setelah Miss Rosé keluar dari ruangan. Sunoo membereskan barang-barangnya, ia harus cepat karena seseorang pasti sudah menunggunya.

“Ada rencana liburan kemana, Noo?” tanya Kangmin.

“Kayaknya mau pulang, deh. Kangen sama eomma appa.” jawab Sunoo sambil memasukkan buku tulisnya ke dalam tas.

“Korea?” tanya Kangmin lagi.

“Bukan.”

“Lah, terus?” ujar Kangmin bingung, wah sudah hampir satu tahun bersahabat tapi bagaimana bisa sahabat gembulnya ini merahasiakan hal penting semacam ini?

“Kanada.”

“Ouh, jauh banget. Padahal kalo ke Korea gw pengen bareng, mana Seongmin netep disini.”

“Lah, Seongmin gak liburan?”

“Katanya ga dulu sih, you know it.” ujar Kangmin yang dibalas anggukan pelan oleh Sunoo.

“Yaudah kalo gitu lu bareng Kak Sanha aja. Gw denger dari Lucy kalo Kak Sanha balik ke Korea.”

Mendengar itu, mata Kangmin berbinar. “Yang bener lu, Noo?”

“Yaiyalah, ngapain gw boong. Nih ya, LUCY!”

Lucy yang sedang mengobrol dengan Alex pun menolehkan kepalanya, “Nape, Noo?”

“Kak Sanha balik ke Korea?” Ini bukan Sunoo, tapi Kangmin.

“Hooh, hari Minggu. Lu mau bareng?”

“Boleh?”

“Ya boleh, lah. Asal bayar sendiri.”

“Ya kalo itu mah pasti iya.”

“Yaudah, kalo gitu nanti waktu kumpul mading gw kasih tau.”

Thanks, Cy.”

Anytime.”

Setelah mengobrol dengan Lucy, Kangmin pun kembali menolehkan kepalanya menghadap Sunoo,

“Noo, makas— lah? Dah balik?”

•••

“Udah nunggu lama?” Sunoo duduk di kursi samping pengemudi sambil melepas tasnya, menaruh tas yang cukup besar itu di kursi belakang.

Ten minutes.” jawab Jake sambil memasangkan seatbelt pada Sunoo.

“Tadi bantuin Kangmin nyariin temen buat balik ke Korea.”

“Aku gak minta penjelasan kok, dear.” Jake terkekeh saat melihat Sunoo yang mempoutkan bibirnya.

“Tumben? Biasanya posesif.” Sunoo mengambil jeli di dashboard, mulutnya bergerak bersamaan dengan tangannya yang menyalakan radio.

“Karena si mini sama si gumogu itu gak masuk hari ini, jadi gak mungkin kamu lagi dihadang sama mereka.”

“Minhee sama Jungmo, nama orang jangan asal diganti dong.”

“Ya itu lah terserah aku gak peduli juga.”

“Hmm, by the way tau dari mana kalo Kak Minhee sama Kak Jungmo gak masuk?”

“Jeongwoo.”

“Hih, pengkhianat. Lagian Jakey kasih apa sih sampe dia mau jadi minion Jakey?” Sunoo bingung dengan sahabatnya satu itu, kenapa dia mau-mau saja disuruh oleh orang disampingnya ini?

“Haruto.”

“Cih, gak modal.”

“Aku ngeluarin modal kok, dear. Tapi lewat Haruto.”

“Hilih.”

“Udah-udah. Sekarang, mau liburan kemana?”

“Kanada. Kangen banget sama eomma appa.”

“Nginap?”

“Ya iyalah. Seminggu, oke?”

Jake tertegun. “What? No, dear. Itu terlalu lama.”

“Jakey, aku dapat jatah libur 5 minggu. LI-MA MING-GU. Seminggu di rumah eomma, baru sebulan itu terserah Jakey. Ya, seminggu ya?” Sunoo mengeluarkan jurusnya, aegyo.

No. Sebulan itu belum perginya, belum pulangnya, belum jalan-jalannya, belum lagi istirahatnya. Ga ada, tiga hari aja dirumah eomma.”

“Eum, lima hari deh. Ya Jakey~~”

Tahan Jake, tahan.

No, three days.”

Five days! Yeah, Jakey? Bbuing bbuing?” Pipi menggembung dengan bibir pout, senjata yang paling ampuh.

Fine, stop it. Five days and four night, okay? Yes or no?

Sunoo memekik senang, ia memeluk Jake dengan sangat erat. “Yes! Thankie Jakey.”

“Hm.”

•••

“Maldives?” tanya Sunoo saat mengetahui tujuan pesawat yang akan ditumpanginya. Mereka sudah mengunjungi orang tua Sunoo di Kanada, jika kalian mau tahu.

Yes.”

“Kenapa Maldives?”

“Karena itu tempat paling recommend buat honeymoon, dear.

Tunggu, apa? Honeymoon?

Ya, mereka sudah menikah tiga bulan yang lalu. Dan karena tidak ingin mengganggu jadwal kuliah Sunoo, Jake berniat memanfaatkan liburan musim panas ini untuk berbulan madu. Maka dari itu saat Sunoo meminta untuk menginap dirumah orang tuanya selama seminggu, Jake menolak keras. Nanti jatah lovey-dovey nya kurang. Halah padahal setiap hari kalau berduaan sudah seperti surat dan perangko, lengket terus.

“Ouh, emang sebagus itu?”

“Ya.”

“Tau dari mana?”

“Serim.”

“Lah, bukannya Kak Serim jomblo?”

“Shht, sembarangan. Dia udah punya anak.”

“HAH?” Sunoo terkejut, sungguh. Dia baru tahu kalau sekretaris suaminya itu sudah menikah, karena dia selalu melihat pria itu kemana-mana seorang diri.

“Iya, dear. Kenal papanya Arin?”

“Kak Allen?” Sunoo pernah melihat papa dan anak itu yang sedang bersantai di kafetaria kantor suaminya. Mereka juga pernah mengobrol bersama. “Tunggu, Kak Allen suaminya Kak Serim?!”

Jake hanya mengangguk. Tangannya kanannya sibuk mengelus pipi bulat Sunoo dan yang satu lagi sibuk memainkan rambut kelam si manis.

“Astaga, ini berita besar.”

Jake terkekeh. “Berita besar menurutmu karena kamu baru tahu, dear.”

“Tapi Jakey, aku gak pernah lihat Kak Allen dan Kak Serim barengan. Apalagi sekarang Kak Allen jarang banget ngunjungin kantor.”

“Kak Allen ada di Selandia Baru, dear. Bersama Arin.” Mendengar itu, mata Sunoo kembali membulat.

“Yang benar?!”

“Ya iyalah, ngapain juga aku bohong.” Jake melirik jam tangannya lalu mengambil kopernya dan koper Sunoo. “Ayo, pesawatnya mau berangkat.”

•••

“Waah, vila ini indah sekali~” Sunoo mengerjapkan matanya memandangi vila besar yang disewa Jake. Vila itu memang cantik ditambah lagi dengan cahaya dari lampu kuning remang-remang, sangat indah di gelapnya malam.

“Mandi dulu ya, habis itu kita tidur. Besok mau jalan-jalan, kan?”

“Heung!”

“Kamu atau aku yang duluan mandi?”

“Eum...” gumam Sunoo sambil menaruh telunjuknya di dagu, tanda bahwa dia sedang berpikir.

“Mandi bareng?!”

“UHUK!!!” Jake yang sedang minum kopi yang dibelinya di bandara tadi langsung tersedak saat mendengar ujaran Sunoo.

“Kamu ngajak mandi bareng?” Anggukan semangat didapat Jake atas pertanyaannya. Sebenarnya bukan masalah sih jika mereka mandi bareng. Toh, mereka sudah menikah dan sudah sering mandi berdua. Tapi yang jadi masalah itu...

Sunoo yang ngajak duluan.

Biasanya anak itu gamau diajak mandi bareng. Sok-sokan nolak sih padahal di bathup juga ujung-ujungnya minta peluk, hih dasar tsundere.

“Ayo Jakey~~ Kita pake shower aja ya soalnya aku udah ngantuk.”

Dear, ini beneran kamu kan?”

“Hah, Jakey kenapa sih? Oh, atau Jakey gamau mandi bareng aku? Yaudah deh, aku mandi sendiri aja.” Ujar Sunoo sambil memasuki kamar mandi yang ada didalam kamar mereka. Nah loh Jake, ngambek tuh.

Jake yang mengetahui bahwa si manis sedang ngambek pun langsung menyusulnya kek kamar mandi. “Eh iya iya, ayo mandi bareng. Kapan lagi diajak mandi bareng sama kesayanganku ini.”

•••

Dear...”

“Eum?”

“Habis ini kita siap-siap ya.”

Satu kalimat itu berhasil membuat Sunoo mengalihkan perhatiannya dari tumpukan busa yang sedari tadi dimainkannya. “Hah? Kita mau pulang? Liburan kan belum selesai.”

Oh lihatlah bibir merah mengerucut dengan binar mata yang meredup itu, bagaimana bisa Jake tidak jatuh cinta setiap detiknya dengan malaikat manis dipangkuannya ini?

“Enggak, kita belum mau pulang. Tapi kita bakal pindah lokasi lovey-dovey.” jawab Jake sambil menggesekkan hidungnya di pipi basah Sunoo.

“Kemana?”

“Liat aja nanti.”

“Ish!” Sunoo mengacak-acak rambut Jake hingga rambut coklat tua itu dipenuhi busa sabun. “Kasih tau ga?!”

“Ga.”

“Jakey mainnya rahasia-rahasiaan ih, ga asik!” Sungut si manis sambil melipatkan lengannya didepan dada, oh jangan lupakan bibir merah yang masih mengerucut itu.

Cup

“Yakin deh, kamu pasti bakal suka.”

•••

“Wah...”

“Suka?”

“Heung!”

Setelah penerbangan sepanjang siang dan cuddle sepanjang malam, sekarang mereka berada di salah satu food street yang terkenal di Osaka.

“Ayo!” Sunoo segera menarik tangan Jake, membawa sang dominan mengelilingi ratusan kios makanan yang berjejer.

Sunoo menghentikan langkahnya yag membuat Jake juga ikut berhenti.

“Mau apa?” tanya Jake saat si mungil hanya diam sambil menatap salah satu kios yang dikelilingi anak-anak.

“Mau permen kapas.”

Jake membolakan matanya. Sunoo belum makan siang dan sekarang dia ingin makan permen kapas? Tidak, perutnya sedang kosong jadi dia tidak boleh makan makanan manis.

No, ga ada makanan manis selama perut masih kosong. Ganti yang lain aja ya.” ujar Jake yang mencoba membujuk Sunoo.

“Tapi mau permen kapas!”

“Iya, nanti kita beli permen kapas kalo perut kecil ini udah diisi makanan.” kata Jake sambil menepuk-nepuk perut rata Sunoo.

Sunoo mendongak dengan bibir pout andalannya. “Bener ya?”

“Iya, bener.”

“Janji?” Kelingking mungil itu disambut dengan kelingking dari yang lebih tua, ditambah sebuah kecupan ringan di tautan kelingking itu.

“Janji. Nah sekarang, ayo kita cari tempat makan.” Kini gantian Jake yang menarik tangan Sunoo, membawa si manis sambil mencari sebuah restoran atau warung kecil.

“Jakey, mau itu!”

Jake mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Sunoo. Sebuah restoran dengan gaya tradisional khas Jepang. Belum sempat Jake bersuara, tangannya sudah ditarik (lagi) menuju restoran itu.

Tiga mangkok kosong bekas ramen tergeletak rapi diatas meja. Awalnya Sunoo meminta dua mangkok ramen, tapi ya... dia tidak mampu menghabiskannya jadi sebagai suami yang baik (re: bucin), Jake lah yang menghabiskan sisanya.

“Enak?”

“Banget! Tapi kok...?”

“Tapi?”

“Kok kayaknya aku pernah ngerasain ini ya?” Sunoo memiringkan kepalanya, menatap Jake dengan pandangan bertanya.

“Mungkin kamu pernah makan ini sebelumnya?”

“Belum, tapi ini rasanya kayak ramen yang pernah dikasih eom-”

“Sunoo-chan?”

Sunoo menghentikan ucapannya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Tubuhnya berbalik kebelakang dan mata rubah itu menatap seorang pria yang cukup tinggi.

“Kei-san!” Seru Sunoo lalu memeluk pria tinggi itu.

“Wah, ternyata emang bener Sunoo-chan yang gemesin.” ujar pria itu -Kei- sambil membalas pelukan Sunoo dan mengusak surai hitamnya.

“Kak Kei tumben di Osaka? Lagi apa?”

“Ngurus ini.”

“Ini?”

“Restoran ini.” Sunoo mengangguk menanggapi ucapan Kei.

“Ini suami mu? Hai, kita bertemu lagi.” sapa Kei saat melihat Jake dibelakang Sunoo.

“Hai.” balas Jake dingin.

“Sama seperti dulu, dingin. Oh iya aku masih ada urusan, sampai jumpa lagi Sunoo-chan.”

Sunoo melambaikan tangannya pada Kei, lalu pria itu menghilang dibalik kerumunan pengunjung.

“Sudah?” tanya Jake yang masih mempertahankan wajah datarnya.

“Sudah!”

“Seneng banget ya?” tanya Jake saat melirik Sunoo yang senyum-senyum sedari tadi.

“Heung! Kangen banget sama Kak Kei, sekarang dia makin sibuk...” jawab Sunoo dengan wajah sendu.

“Oh.”

“Kok oh doang sih?!” sungut Sunoo kesal.

“Ngapain coba ngangenin mantan, kuker kamu tuh.” ujar Jake yang membuat Sunoo terdiam.

”...”

”...”

”...”

“Pfft-huAHAHAHAHA!” tawa Sunoo meledak, membuat Jake menatapnya bingung.

“Haha... jadi Jakey cemburu? Ululu ada yang cemburu rupanya~” Sunoo mengejek Jake dengan menyucuk-nyucuk pipi tirus di wajah yang masih menampilkan ekspresi datar itu.

“Ck, udah ih. Ayo balik.” Jake menggenggam tangan mungil Sunoo, menariknya keluar dari kerumunan.

“Permen kapasnya??”

“Ga ada permen kapas, besok-besok aja.” Oke bibir pout itu kembali lagi.

“Oh iya, Jakey.” panggil Sunoo saat mereka sedang dijalan kembali ke hotel.

“Apa?”

“Kak Kei itu sepupu aku. Mantan aku namanya Riki.”

Jake menghentikan langkahnya, menatap Sunoo yang sedang tersenyum kecut.

Kei

Riki

Kei

Riki

Kenapa dua orang itu harus memiliki huruf k dan i di nama mereka? Dan kenapa mereka sama-sama orang Jepang? Hah, tamatlah Jake habis ini.

“Ouh... hehe. Kalo gitu kita balik ke food street yuk, dear. Katanya mau permen kapas?” Jake tersenyum canggung, menyadari kesalahan yang diperbuatnya.

“Ga, udah gak pengen. Ayo balik, kan tadi Jakey yang nyuruh balik.” Sunoo berjalan duluan meninggalkan Jake yang ingin menangis.

. pluvioseleno