Witch's Flower of Blaze
tw // fantasy, mention of death
“Kak Noo, bacain aku cerita dong!” ujar Juhwan pada suami pamannya, yang berarti juga pamannya?
“Kalo Kak Noo bacain cerita, Juhwan bakal bobo?” tanya Sunoo, suami paman Juhwan.
“Iya! Mama selalu bacain aku cerita kalo aku mau bobo. Tapi uncle Jaeyoon ga pernah mau bacain aku cerita, payah banget!” sungut Juhwan kesal.
“Ya kamu kan udah gede, masa mau bobo harus dibacain cerita? Kayak bayi aja!” balas Jaeyoon, paman Juhwan dari dapur.
“Udah, udah. Juhwan diem ya, biar Kak Noo bacain cerita.” ujar Sunoo menengahi, yang membuat Juhwan memekik senang.
“Alkisah, ada seorang penyihir yang dikucilkan oleh warga dikarenakan rumor-rumor buruk yang tersebar tentang penyihir. Penyihir itu tinggal di sebuah rumah kecil di tengah hutan, menghindari ancaman warga.
Warga terlalu fokus pada pemburuan penyihir, hingga mereka lupa akan ancaman yang sebenarnya. Iblis. Makhluk-makhluk mengerikan itu menyerang pemukiman warga saat para warga hanya bersiap akan ancaman penyihir.
Bila melawan penyihir, mereka hanya perlu membawa tali dan sebuah benda tumpul untuk melumpuhkan sang penyihir yang bahkan tidak melawan. Tapi bagaimana dengan iblis? Mereka membutuhkan senjata tajam, bahkan perisai untuk menghindari serangan mahluk itu.
Keadaan saat itu benar-benar mengerikan. Tangisan anak kecil, teriakan para wanita, dan erangan para pemuda yang melawan serangan iblis-iblis itu. Rumah-rumah mulai hancur, pohon-pohon tumbang, dan mata air mengering.
Sang penyihir mendengar kabar buruk itu dari seekor elang yang selalu ia tugaskan untuk mengawasi pemukiman. Ia bingung, iblis bukanlah tandingannya. Tapi ia juga tak mungkin diam saja membiarkan para manusia malang itu tewas dilahap para iblis.
Tiba-tiba api unggun di perapian menyarak, mengalihkan perhatian sang penyihir. Iblis tak tahan dengan api, karena mereka tercipta dari api. Bertemu dengan api sama saja dengan kembali ke wujud asal mereka.
Tapi, bagaimana cara menyalurkan api ke kumpulan iblis itu? Tak mungkin ia melempar bola-bola api begitu saja. Atau membakar iblis-iblis itu secara langsung? Ia tak sekuat itu.
Ia pergi ke halaman belakang rumahnya dimana terdapat hamparan bunga crimson, bunga leluhurnya. Bunga itu adalah awal mula munculnya rumor buruk tentang penyihir, karena konon katanya bunga itu dapat membakar setiap hal yang menyentuhnya.
Bunga itu tersebar di seluruh hutan hingga pemukiman, dan tidak pernah ada yang berani menyentuhnya. Para warga terlalu takut untuk mengusik 'milik' sang penyihir.
Penyihir itu tahu, itu hanyalah rumor belaka. Leluhurnya terlalu sibuk untuk membuat bunga yang dapat membakar sesuatu seperti itu. Tapi sepertinya rumor itu tak akan menjadi rumor lagi, karena ia akan membuat rumor itu menjadi benar.
Di pemukiman, suasana semakin kacau. Hal ini lebih parah dibanding musibah. Para warga sudah pasrah, tak dapat mengeluarkan air mata lagi saat melihat orang tersayang mereka ditelan hidup-hidup.
Seekor iblis menginjak bunga crimson, yang membuat kakinya terbakar sebelum menghilang menjadi abu. Iblis lain yang melihat itu pun panik, mereka berlari tak tentu arah hingga tak sengaja menginjak bunga crimson dan menjadi abu satu persatu.
'Bunga.. bunga penyihir itu menyelamatkan kita!' seru seorang gadis dengan kondisi gaunnya yang penuh darah dan air mata yang kering di pipinya.
Para warga bersorak dengan perasaan campur aduk, sebab penderitaan mereka telah berakhir. Iblis-iblis itu telah tiada, begitu pula dengan orang-orang tersayang mereka yang telah dilahap iblis.
'Jangan sentuh bunga itu!' ujar seorang wanita paruh baya pada seorang pemuda yang bersiap untuk memetik bunga itu.
'Jangan bodoh, Jake. Kamu akan melukai dirimu sendiri.' Kakak dari pemuda bernama Jake itu memperingati.
Abai, Jake menarik bunga crimson sebelum mengerang kesakitan. Ia berlari memasuki hutan dengan tangan yang terbakar. Rupanya, api pada bunga itu tetap tidak hilang walau sudah tidak menyatu dengan tangkainya.
Mata Jake berbinar saat ia menemukan hamparan merah bunga crimson, tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda duduk manis diantara hamparan bunga itu.
Pemuda itu sangat manis, senyumnya merekah sambil mencium aroma bunga crimson yang ia tangkup dengan tangan kosongnya. Perlahan namun pasti, sekaligus menghindari bunga-bunga crimson yang bertebaran, Jake mendekati pemuda itu.
'Apa kamu datang untuk menangkapku?' pemuda itu berujar, membuat Jake terkejut.
'Hm? Tidak ada tali di tanganmu, tapi kenapa kamu memegang bunga itu? Lihat, tanganmu sudah tak berbentuk.'
Jake menatap tangannya yang persis seperti apa yang dikatakan pemuda itu, tak berbentuk. Bahkan ia sudah tak merasakan rasa sakit maupun panas dari bunga yang ia pegang.
'Kenapa kamu datang kesini? Apa kamu ingin memintaku mengembalikan nyawa warga yang sudah dilahap iblis? Maaf, aku tidak bisa. Aku hanya seorang penyihir, bukan Tuhan.' ujar pemuda yang ternyata penyihir itu panjang lebar, sambil terus mengagumi bunga crimson ditangannya yang mulus.
'Anu.. aku.. ingin berterima kasih.' Jake terbata, bingung harus apa dengan seorang? Atau semahluk? Didepannya itu.
'Hm, untuk?' penyihir itu balik bertanya.
'Semua, untuk menyelamatkan teman-temanku. Dan.. maaf, karena sudah berpikir buruk atas dirimu.' ujar Jake sebelum pandangannya menggelap.
Penyihir itu menghela napas sebelum melambungkan tubuh Jake agar tak menyentuh hamparan bunga crimson yang akan membuat kondisi tubuhnya sama seperti kedua tangannya.”
“Terus gimana Jake nya? Dia mati kah?” tanya Juhwan, menanti kelanjutan cerita dari Sunoo yang tengah minum susu hangat buatan Jaeyoon.
“Hush, sembarangan! Masih hidup dia tuh!” sahut Jaeyoon yang tengah mengoleskan handcream pada tangannya.
“Kok uncle marah sih, kan aku cuma tanya!” balas Juhwan kesal.
“Udah, Kak Noo lanjut ya..
Saat Jake membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah langit-langit kayu. Ia bangun dan mengedarkan pandangannya, mendapati sang penyihir yang sedang menyeruput teh.
Jake bertanya ia ada dimana, dan penyihir itu menjawab jika ia berada dirumah sang penyihir. Jake sedikit terkejut karena rumah penyihir itu tidak seperti yang tertulis di buku dongeng, dimana rumah itu beraroma tidak sedap, berwarna gelap, berkabut, dan penuh dengan barang-barang mengerikan.
Tapi kondisi rumah ini, sangat jauh dari deskripsi buku-buku dongeng itu. Rumah ini aromanya manis seperti kue kering, sangat bersih, tidak ada kabut, bahkan dindingnya yang berwarna krem itu dipenuhi dengan pernak-pernik yang cantik.
Tiba-tiba ia teringat dengan tangannya, yang ternyata sedang terbalut perban tebal. Sang penyihir berkata kalau tangannya rusak parah, namun ia sudah memberikan obat herba agar tangannya segera membaik.
Jake bingung, kenapa penyihir ini baik sekali? Mata itu menatap pada sang penyihir yang sibuk mengunyah biskuit. Hingga fokusnya terpecah saat penyihir itu menanyakan namanya.
Penyihir itu balik memperkenalkan diri, Seonyul namanya. Seonyul mengatakan bahwa ibunya memberi nama seperti itu agar ia dapat menjadi irama yang membahagiakan orang lain. Namun sepertinya keinginan itu tidak akan terwujud karena ia pun sudah terlahir untuk dikucilkan oleh orang lain.
Jake pun berkata kalau ia adalah orang yang sudah dibuat bahagia oleh Seonyul, dan ia akan membuat Seonyul juga bahagia.
Tamat.”
“Terus, mereka gimana? Bahagia? Atau Jake ngasih tau ke warga lain tentang rumahnya Seonyul?” Juhwan masih penasaran.
“Heh anak kecil, Jake ga sejahat itu!” Jaeyoon membalas, kesal.
“Ya biasa aja dong, uncle marah-marah terus.” Juhwan juga tak mau kalah.
“Iya, mereka berdua hidup bersama. Aman, damai, bahkan kakaknya Jake juga tahu tentang Seonyul. Begitulah yang dikatakan dongengnya.” Sunoo menengahi perdebatan paman dan ponakan itu.
“Nah, sekarang Juhwan bobo ya. Udah janji kan tadi? Anak baik ga ingkar janji.” lanjutnya pada Juhwan yang tengah bersiap tidur, tak butuh waktu lama untuk membuat anak itu tertidur.
Jaeyoon mendekat, sedikit membungkuk untuk memeluk suaminya. “Cerita yang bagus.”
“Aku tahu.” balas Sunoo, menggenggam kedua tangan Jaeyoon yang warnanya lebih gelap. “Jake yang bodoh.”
“Karenamu, Seonyul.” balas Jaeyoon sebelum mengecup kening Sunoo.
“Ingin menyentuhnya lagi? Masih tersimpan rapi di loteng, mau kuambilkan?” tawar Sunoo.
“Ga, ga perlu. Cukup kamu aja yang pegang, hati-hati jangan sampe kena Juhwan.” Jaeyoon menggeleng.
“Dia kan dijemput Kak Juyeon besok, mana bisa dia pegang.” Sunoo mengelak.
“Ya kan kapan-kapan, siapa tau dia sneaky ke loteng kita.” Jaeyoon masih bersikeras.
“Makanya dikunci.” ujar Sunoo judes
“Iya, iya. Nanti aku beli kunci buat lotengnya.”
.pluvioseleno